수요일, 8월 2016년
Alright everyone...여러분들
Apa kabarnya? semoga masih selalu dalam lindungan Allah SWT ya guys, aamiin..
Sekarang gue mau menceritakan tentang lika-liku asal mula kenapa harus Ilmu Perpustakaan yang gue pilih sebagai major di jenjang perguruan tinggi. Dan beberapa bumbu pemanis jaman SMA. (Disaranin sambil makan popcorn, karena ini cerita panjang bener)
Dulu gue adalah seorang siswa yang mengemban titel anak IPA di SMA, which is you know lah struggle banget mau dapat nilai bagus di sana. Kenapa gue pilih IPA? karena kakak dulu di jurusan yang sama juga dan dikasih wejangan untuk pilih itu dengan iming-iming "IPA tuh bisa kemana aja cha". Selain itu, juga memang karena ada mata pelajaran IPA yang sangat gue suka sampai detik ini. Pede juga lah dengan nilai dan ranking saat gue di kelas 10. Jadilah penjurusan gue pilih IPA meskipun Psikotes menunjukan hasil sebaliknya karena gue bukan orang yang gampang percaya sama hasil tes-tes macam itu. "The result still could change, right?", yah kurang lebih itu hasil pemikiran seorang remaja 15 tahun a.k.a gue saat itu.
Masuklah ke kelas XI IPA 2 yang isinya anak-anak super semua :3. Fyi angkatan gue ada 10 kelas waktu kelas X dan sekelas itu terdiri dari 40-an siswa. Setelah kami beranjak ke kelas XI, entah kenapa smanli mengerucutkan jumlah kelas menjadi 9 terdiri dari 5 kelas IPA dan 4 Kelas IPS. Bisa dibayangin lah ya itu kelas gue macem apa jadinya apalagi yang minat kelas IPA banyak sekaleee.
⟼⟼⟼⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻
Singkat cerita, kelas XII gue mulai terombang ambing. Secara ya, Top One anak IPA rata-rata pada nomplok di kelas ini. Ada perasaan takut gak bisa menyeimbangkan nilai gue. Eits..Bismillah yakin aja kan masih punya Allah, everything is gonna be alright cha!!. Lalu tibalah masa untuk seluruh murid kelas XII untuk memilih jurusan kuliah. Alhamdulillah angkatan gue masih diberi kesempatan semuanya untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan. Jadi, ya nggak kayak dulu yang cuma siswa tertentu aja yang bisa ikutan jalur untung-untungan itu. Dari kelas X gue udah mantepin satu jurusan ini. Mau universitasnya dimanapun yang penting jurusannya ya itu, Kimia. Semenjak guru kimia yang mengajar itu bu Lilis, semua hal tentang kimia menurut gue itu hal yang menyenangkan. Nah, yang paling gue suka itu tentang rantai karbon. Dulu sempet hafal tabel periodik yang per-golongan nya pasti ada aja singkatan alay bin ajaib *(sekarang mah apaan aja yak golongan 1A? aduh maafkan saya bu lilis dan pak cepi:(). Ikutan Science Club bidang kimia yang guru pembimbingnya bu Lilis, lah makin semangatlah gue gelutin nih pelajaran. Sampai dipercayain sama bu Lilis ikutan OSK dan Chemistry Fair nya UI wakilin smanli dulu bareng-bareng sama sohib SC Chemistry super kayak Ayu, Jihan, Hany, Azzam, Ibnu, dan Andi. Yaudahlah ya positif ini mah passion gue Kimia. Sampe sini masih jauh dari dunia buku-buku itu, kan?
Lalu, gue tulislah pilihan pertama gue dengan pede dan yakinnya :
Pilihan kedua dan ketiga selanjutnya gue gak terlalu inget posisinya duluan Tekkom UI atau SKPM IPB yang jelas ya, it's obviously showed us how insane i am at that time !! mikir apa waktu itu yak masukin jurusan sekece itu setelah kimia? di UI lagi halah-_-.. yang diinget gue suka dunia komputer (udah gitu aja, padahal mah modal coding-an aja kaga ngarti) dan SKPM?hmm..mungkin ambil aman karena gue tau pilihan ketiga ipb ketika kita milih universitas lain di pilihan sebelumnya itu impossible. Anak SAVIOUR (smanli angkatan gue) udah pada ngerti kalo si IPB gak mau diduain apalagi ditiga-in, alhasil setengah hati ngisinya. Kepikiran untuk coba Kimia UNPAD but the problem is my mom against that will. Umi nggak mau anak-anaknya ngerantau di luar jabodetabek, ntar katanya ribet masalah biayanya dan segala macemnya khawatir gue bakalan makan apa di sana. Sampai akhirnya ketiga jurusan itu belum menjadi rezeki. Belom kok..belom sedih karena gue seneng ada temen gue yang keterima di sana, at least jadi pecutan gue buat nyusul dia di sana. Selain itu, kabar bahagianya ialah si oka yang sampai sekarang pun konsisten sama taekwondo-nya diterima di FKUI. BOOOM!!!.. big news for smanli itu, she's the first one who made it to that major for the past 11 smanli's generation. Ikutan bangga dan bahagia luar biasa dong punya temen yang jebolin itu jurusan.
Hence, i tried to get up and straight ahead again, gue mencoba sekeras mungkin di SBMPTN. But, gue sadar kalo les di salah satu bimbel nusantara membuat gue jadi malas (re:takut) nanya-nanya banyak sama tutornya. Why?? lihatlah sekelilingmu anak sma negeri favorit di sepenjuru Depok ca, malu keleus nanya banyak bener haha, jadi merasa kecil. Yah perasaan begitu mungkin bukan cuma gue yang ngerasain kalo les di lingkungan nusan. Klasik tapi faktanya itu yang gue rasain.
Kimia IPB yang menjadi pilihan pertama saat itu tak bergeming menerima lamaran gue di jalur SBMPTN. Jalur-jalur pmdk nya D3 juga gue lamar, macem PNJ dan Polmed. Yang dua ini jurusannya jauh dari kimia, gue nyari jurusan desain karena ngedesain sendiri tanpa mengemis minta tolong orang yang udah pro, rasanya membanggakan (mulai dari sini makin keliatan ngawurnya pemikiran gue tentang passion). Tapi apalah daya hanya kata maaf yang gue dapatkan. Intinya belum rezeki nya di sana.
Lalu, gue tulislah pilihan pertama gue dengan pede dan yakinnya :
1. Kimia, Universitas Indonesia
Hence, i tried to get up and straight ahead again, gue mencoba sekeras mungkin di SBMPTN. But, gue sadar kalo les di salah satu bimbel nusantara membuat gue jadi malas (
Kimia IPB yang menjadi pilihan pertama saat itu tak bergeming menerima lamaran gue di jalur SBMPTN. Jalur-jalur pmdk nya D3 juga gue lamar, macem PNJ dan Polmed. Yang dua ini jurusannya jauh dari kimia, gue nyari jurusan desain karena ngedesain sendiri tanpa mengemis minta tolong orang yang udah pro, rasanya membanggakan (mulai dari sini makin keliatan ngawurnya pemikiran gue tentang passion). Tapi apalah daya hanya kata maaf yang gue dapatkan. Intinya belum rezeki nya di sana.
Gak nyerah begitu saja gue coba ujian mandiri-nya UIN Jakarta, kampus tempat ayah mendapatkan gelar sebagai seorang sarjana pendidikan bahasa inggris. Umi selalu bilang universitas manapun sama aja, kan tujuannya belajar. Itu yang beliau bilang, mungkin takut gue mikir males nyoba uin karena embel-embel kampus itu yang di cap macam-macam sama orang lain. Padahal gue juga biasa-biasa aja mandang itu kampus. Cuma ya mikirnya "jauh" dari UI sama IPB yang sebelumnya jadi prioritas pilihan gue. Hmm okelah ca uin. Kampus yang terbilang biaya semesterannya murah bila dibandingkan dengan kampus-kampus yang gue tau lainnya, dapet tambahan matkul keislaman dan bahasa arab. Yeaah, why not??. Pemilihan jurusannya pun kalian dapat tebak sih. Karena keras kepala nya gue kepengen dapet kimia, pilihan pertama dan kedua tetep aja yang berhubungan dengan pelajaran itu yaitu kimia dan pendidikan kimia. Kimia harga mati cuy!!.
Pengumumannya saat itu kebetulan lagi di bulan Ramadhan. Menjelang berbuka puasa, temen gue yang posisi duduknya pas ujian mandiri uin persis banget di depan gue tiba-tiba nge-whatsapp,
"Ichaaaa selamat ya.." (lupa konten detailnya).
Kondisinya saat itu gue udah memutuskan untuk buka website nya abis solat magrib aja. Eh nih bocah yang keterima juga di pendidikan mtk udah ngebuka duluan. Pertanyaannya 'kok dia bisa tau? bukannya cuma bisa diliat sama masing-masing peserta ya macem sbm atau undangan?'. Setelah akhirnya gue kepo juga sama hasilnya, ternyata itu pengumuman berbentuk list keseluruhan peserta yang diterima dari berbagai jurusan. Uwaaah rasanya bahagia kecampur haru lah saat itu. Nggak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur sama Allah, akhirnya ada juga kampus yang menerima lamaran gue :').Terpampanglah nama gue di deretan orang-orang yang diterima pada prodi Pendidikan Kimia.
Pengumumannya saat itu kebetulan lagi di bulan Ramadhan. Menjelang berbuka puasa, temen gue yang posisi duduknya pas ujian mandiri uin persis banget di depan gue tiba-tiba nge-whatsapp,
"Ichaaaa selamat ya.." (lupa konten detailnya).
Kondisinya saat itu gue udah memutuskan untuk buka website nya abis solat magrib aja. Eh nih bocah yang keterima juga di pendidikan mtk udah ngebuka duluan. Pertanyaannya 'kok dia bisa tau? bukannya cuma bisa diliat sama masing-masing peserta ya macem sbm atau undangan?'. Setelah akhirnya gue kepo juga sama hasilnya, ternyata itu pengumuman berbentuk list keseluruhan peserta yang diterima dari berbagai jurusan. Uwaaah rasanya bahagia kecampur haru lah saat itu. Nggak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur sama Allah, akhirnya ada juga kampus yang menerima lamaran gue :').Terpampanglah nama gue di deretan orang-orang yang diterima pada prodi Pendidikan Kimia.
Pendidikan Kimia faktanya menjadi jurusan terindah gue....at least for about a half semester :').
⟼⟼⟼⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻⟻
Saat OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik) waktu itu udah pasti dong yah setiap kita kenalan sama teman baru atau kaka senior, kita ditanya tentang jurusan. Setelah gue jawab jurusannya apa, raut wajah orang-orang itu langsung takjub entah heran atau mikir gue salah apa bisa masuk ke pekim. Salah satu kaka senior yang juga menggeluti jurusan itu bilang dengan wajah seperti mengasihani gue, "Yang sabar dan kuat ya di kimia". Gue yang masih Jadi, setelah kurang lebih 3 bulan gue akhirnya kalap. Fisik meronta-ronta minta diistirahatkan. Belum bisa beradaptasi sama 3 praktikum yang laprak deadline-nya bukan main. Detik-detik gue nyerah mulai kecium baunya..halah. Di suatu waktu gue mengerjakan laporan kimia dan fisika yang harus selesai dalam 2 hari lagi. Laprak kimia harus dalam bentuk jurnal dan fisika harus tanpa cacat plus tulis tangan di buku akutansi gede gitu. Tanpa tidur, ngebutlah gue ngerjain tuh laporan-_-. Besoknya gue paksain ngampus bawa si bootee (motor gue) sambil terkantuk-kantuk hampir nabrak mobil arah berlawanan karena tanpa sadar gue membuat si boot jalan miring. Kondisinya saat itu laprak baru kira-kira setengah kelar, badan gue lelah. Baik fisik maupun ruh nggak sinkron. Badan gue ada di kelas tapi ruh gue rasanya kemana-mana dan udah mikir balik ke rumah aja 'harus ngelaprak lagi'. Sampai di rumah setelah shalat dan sempetin makan, gue lanjutin tuh laprak.
Waktu subuh pun tiba. Gue udah nggak kuat lagi, tepar banget. Badan gue panas tak terkira. Laprak belom kelar...halaah padahal hari itu juga dikumpulin dan hari dimana praktikum kimianya berlangsung. Mana belom belajar buat pre-test. Adik sama kaka gue yang baru bangun terheran-heran ngeliat tampang lusuh gue. "Cha, Lo nggak tidur semalem?". Gue menjawabnya dengan langsung nutup laptop, berjalan menuju kasur. Udah pasrah gue hari itu gak mau masuk dengan kondisi badan dan laprak yang seperti itu.
Disaat sakit itu gue mikir panjang lagi tentang keputusan gue memilih jurusan ini. 'Apa ini yang sebenarnya gue inginkan?'. Selama 2 hari nggak tidur itu membuat gue terlalu dzolim sama tubuh gue sendiri..Astaghfirullah :". Arti Passion versi gue salah besar. Terlalu keras kepala dengan keputusan menetap di kimia. Sukses membenarkan premis-premis umi maupun sanak saudara yang gak yakin mendengar minat gue akan kimia. Mereka cerita tentang Om gue yang lulusan fisika UI karena beliau pun di tugas akhirnya hampir resign. Tapi gue dengan sombongnya menjawab yakin bisa menghadapi itu semua. Setelah mengalami sendiri beratnya, saat itu juga gue berpikir untuk resign dari pekim. Keluarga bahkan umi kewalahan mencari tahu penyebabnya dan ketika mereka menyinggung masalah ini, gue hanya bisa menjawab dengan tangisan. Gue nggak pintar menjelaskan secara kronologis apa yang gue rasain saat itu terlebih hampir kebawa stres, terlalu sering nangis.
Teman-teman sekelas silih berganti menanyakan keadaan gue serta tentang kapankah gue balik lagi ke sana. Sampai satu waktu beberapa dari mereka berkunjung menjenguk ke Depok. Makin sedih lah gue karena salah satu faktor terbesar gue masih bertahan di sana karena mereka. Sebesar itu kepedulian mereka sama gue yang keras kepala. They tried convince me to comeback, but i'm not even listening to what they said. What did i have done to those people who do care for me was really mean. I left them without officially sayin' a goodbye. I'm not good with that.
Beberapa bulan berlalu dan gue mencoba mengalihkan perhatian gue ke hal-hal lain. Terkadang gue kesepian karena gak satupun temen SMA gue yang tau tentang apa yang terjadi. Gue juga kadang kirim kabar ke salah satu anak pekim yang deket sama gue. Tapi itu juga udah mulai berkurang. Karena dia juga udah sibuk sama lingkaran praktikum nyekik itu."Well.... I hate that goodbye phase...coward?weak? yes just call me that if you think it's not a big issue..."
Well, singkat cerita..akhirnya gue mencoba untuk move on. Udah agak lelah sama dunia IPA. Akhirnya, Nyoba lagi SBMPTN di tahun 2015 dengan pilihan pertama Ilmu Perpustakaan UI. Lah, kok jauh amat mba..dari kimia ke dunia buku itu?. Honestly, ini merupakan sebuah saran gemilang dari pasangan suami istri yang berprofesi pustakawan dalam keluarga gue, yaitu bibi dan om. Mendengar ringkasan mengenai dunia profesi mereka agak tertarik juga jadinya. Yaah, Sebenarnya masih ragu di Ilmu Perpus bakal cocok sama passion apa nggak. Karena sempat mikir kepengen masuk sastra inggris aja yang lebih familiar dan fun buat gue. Tapi jurusan ilmu perpus ini ternyata menggiurkan dari segi prospek dan emang unik dalam artian gak banyak kampus yang punya ini jurusan. Setelah pengumuman SBMPTN, Alhamdulillah keterima jurusan Ilmu perpusnya euum...tapi UI nolak gue lagi. Sebagai gantinya, UIN masih dengan baiknya bisa kasih gue kesempatan kali kedua. Iya, gue keterima di pilihan ketiga SBMPTN yaitu Ilpus UIN.
Semester demi semester berlalu. Secara sadar nggak sadar, hal yang gue dapatkan dari jurusan ini ternyata banyak banget. Berbagai mata kuliah menunjukkan bahwa Ilmu Perpustakaan kaya akan berbagai bidang ilmu. Bayangin aja ya, awalnya gue ngira bakal ngebosenin karena image perpustakaan yang super boring dengan penjaganya yang garang kalau kita berisik di area kekuasaannya. Eh nggak dinyana ini gue belajar banyak banget, matkul jurusan lain juga diraup. Nih ya, kita belajar Psikologi, Komunikasi, Strategi Pemasaran, well ada kimia juga. Eh nggak deng hehe nggak ko, bukan praktikum di laboratorium macem itu, tapi secara nggak langsung sih belajar kimia juga karena kita punya matkul Preservasi yang dikelilingi berkaitan erat banget sama dunia itu. Jadi, gue punya satu dari beribu alasan untuk tetap tinggal. Ditambah dengan temen-temen super klop lah di kelas. Gue udah nggak pernah lagi kepikiran resign untuk kedua kalinya. I found my treasure in here........:"D
Yaaa semoga dengan gue cerita hal ini, ngebantu pikiran kalian yang lagi penat masalah jurusan. Intinya, jangan pernah lepas percaya sama Allah. Jangan sombong bisa menentukan pilihan lo sendiri. Libatkan Allah dan orang-orang sekitar yang sayang sama kita jika kita lagi ngerasa depresi akan suatu hal. Jangan kayak gue yang terlalu introvert parah seperti cerita di atas.
lagi dan lagi Allah ngingetin :
"Allah tahu persi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan"
NB: Ternyata butuh waktu lama untuk cerita tentang hal ini. Mulai di ketik dari tahun lalu bulan Agustus, dan baru selesai di tahun 2017 XD.
Ya ampun... its really a good strory that worth-telling. yang aku bisa komen cuma hidup...hidup..."
ReplyDeleteLagi dong kadisa menceritakan pengalaman hidupnyaaa
makasi ka gio udh mau baca, padahal ini ceritanya membosankan bgt hehe, ambil baiknya buang buruknya ya ka gio
Delete